Jurnaljatengdiynews. Magelang — Alam adalah ruang belajar yang tak pernah kehabisan ilmu. Sore itu, di sekitar kandang ternak, sebuah perjumpaan sederhana antara ustadz Noeryoso dan anak-anak sekolah dasar (SD) berubah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Mereka menemukan buah liar bernama rambusa, mencicipinya, mengenali ciri-cirinya, sekaligus belajar mensyukuri karunia Allah melalui alam.
Dalam suasana santai dan penuh keakraban, pembelajaran alam ini terhubung dengan semangat ngaji alam bersama Ustaz Noeryoso dari Badongan. Tidak hanya belajar melalui buku, anak-anak diajak mengamati langsung kehidupan di sekitarnya, mengenali tumbuhan, serta menggali pelajaran dari setiap ciptaan Allah.
*Rambusa, Buah Liar dengan Potensi Tersembunyi*
Ustadz Noeryoso menjelaskan bahwa rambusa merupakan tanaman yang dapat tumbuh liar tanpa perlu campur tangan manusia secara khusus. Buahnya memiliki perpaduan rasa manis, asam, dan menyegarkan.
Temuan sederhana tersebut membuka diskusi tentang potensi pangan lokal, keanekaragaman hayati, serta pentingnya mengenali tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita. Rambusa juga menarik untuk dipelajari lebih jauh mengenai kandungan senyawa alaminya, termasuk potensi antioksidan yang perlu dibuktikan melalui penelitian.
Tanaman liar sering kali dianggap tidak bernilai. Padahal, jika dipelajari dengan benar, tanaman di sekitar kita dapat menjadi sumber pengetahuan, inspirasi usaha, dan peluang pengembangan potensi lokal.
Meski demikian, pemanfaatan rambusa sebagai bahan pangan maupun obat tradisional tetap perlu memperhatikan identifikasi jenis tanaman, keamanan konsumsi, dan bukti ilmiah mengenai khasiatnya.
*Belajar di Alam, Ilmu Lebih Dekat dengan Kehidupan*
Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Halaman, kebun, kandang ternak, dan lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium kehidupan yang kaya akan pelajaran.
Anak-anak terlihat antusias ketika dapat menyentuh, mengamati, dan mencicipi buah secara langsung. Dari satu tanaman sederhana, mereka belajar tentang alam, rasa ingin tahu, keanekaragaman hayati, hingga pentingnya menjaga lingkungan.
Pola pembelajaran semacam ini berpotensi dikembangkan secara rutin dan sistematis melalui kegiatan Ngaji Alam, yakni perpaduan antara ilmu pengetahuan, pendidikan karakter, tadabur alam, dan pengenalan potensi pertanian.
Harapannya, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, menghargai pangan lokal, serta mampu melihat peluang dari kekayaan alam di sekitarnya.
*Alam sebagai Kitab Kehidupan*
Kegiatan sederhana ini menghadirkan pesan mendalam: belajar tidak selalu harus menunggu ruang kelas, guru tidak selalu membutuhkan papan tulis, dan ilmu terkadang hadir dari sesuatu yang tumbuh liar di tepi jalan.
Sebagaimana semangat yang digaungkan dalam Al-Qur’an, Surah ‘Abasa ayat 24, “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” Ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan sumber pangan dan karunia yang Allah sediakan bagi kehidupan.
Dari buah rambusa, kita belajar bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber ilmu yang perlu dijaga dan disyukuri.
“Alam tak pernah berhenti memberi pelajaran dan membuka peluang rezeki. Tugas manusia adalah belajar mengenali, mengembangkan dengan bijak, dan mensyukurinya.”
Ngaji Alam: dekat dengan alam, bertambah ilmu, tumbuh rasa syukur, dan terbuka jalan kebermanfaatan.
Semoga langkah sederhana bersama Ustaz Noeryoso Badongan ini menjadi inspirasi untuk membangun budaya belajar di alam yang berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan generasi pecinta ilmu, pertanian, dan lingkungan. (Rochmad Taufiq)










