Jurnaljatengdiynews.com- Kudus, Minggu 20 Juli 2025 – Suasana pagi yang sejuk di kawasan Balai Jagong Kudus menjadi pembuka hangat bagi kegiatan olahraga kebugaran kaki yang dilakukan oleh Dr. Carto, dosen Universitas Agama Islam Kudus juga Ketua Purnawirawan Polri Kabupaten Kudus, bersama Rochmad Taufiq, pegiat sosial dan pertanian terpadu.
Setelah menempuh sekitar 5–6 putaran atau setara 4.000–5.000 langkah di arena sport center Balai Jagong yang dipadati para olahragawan dan pedagang kaki lima, keduanya beristirahat di Banana Garden Farm (BGF), tepatnya di Garden Barat kawasan balai jagong untuk menikmati kopi dan camilan pagi.
Di gubug sederhana yang asri itu, diskusi hangat pun mengalir. Bermula dari pembahasan tentang sholat khusyu’ dan manfaat ibadah mahdhoh, Dr. Carto menyampaikan kegelisahannya terhadap praktik keberagamaan yang masih berkutat pada persoalan furu’ (cabang), bukan esensi. Ia mengutip pengalamannya saat berdiskusi dengan seorang ulama, bahwa banyak orang yang sholat tapi masih lalai dari makna dan tujuan sholat itu sendiri. “Kalau seseorang sholat tapi tidak memahami hakekatnya, bahkan bisa jadi termasuk golongan yang celaka,” ujarnya serius.
Tak lama berselang, suasana diskusi makin hidup dengan kehadiran Dr. Murtono, Rektor Universitas Safin Pati. Kedatangan beliau yang tak direncanakan ini langsung membawa diskusi ke level yang lebih strategis. Dr. Murtono, yang dikenal sebagai praktisi pertanian organik dengan pengalaman mengelola ribuan ekor sapi, kebun tebu, buah kelengkeng, dan pisang di lahan ratusan hektare, menambahkan wawasan luas tentang pertanian berbasis ekosistem dan teknologi.
Diskusi bertiga itu pun meluas, membahas kondisi bangsa, krisis amanah di kalangan pejabat publik, dan urgensi membangun sistem pendidikan tinggi berbasis teknologi kekinian dan pertanian terpadu. Menariknya, diskusi semakin dalam ketika kopi fermentasi khas Cilacap mulai diseduh. Aroma harum dan cita rasanya yang unik turut menambah semangat dan kejernihan gagasan para peserta.
Dalam suasana yang penuh inspirasi, muncul ide besar untuk mendirikan perguruan tinggi berbasis teknologi dan pertanian terpadu yang menyatu dengan kebutuhan umat dan kemandirian pangan nasional. Diskusi ini direncanakan berlanjut secara rutin dengan agenda nyata, seperti mencari lahan representatif dan melobi para pemangku kebijakan, termasuk Bupati Kudus.
“InsyaAllah, dalam waktu dekat saya akan bersilaturahim kepada Bapak Bupati Kudus untuk membahas inisiatif ini,” terang Dr. Carto penuh semangat. (Rochmad Taufiq)