Jurnaljatengdiynews.com-Semarang — Mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran yang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gondoriyo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, berinovasi mengembangkan Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang diberi nama “Bagas Waras”. Kegiatan KKN ini berlangsung sejak 28 Juli hingga 27 Agustus 2025 dan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu perkuliahan melalui program-program unggulan berbasis pengabdian kepada masyarakat.
Salah satu fokus utama mahasiswa KKN di Dusun Setro, Desa Gondoriyo, adalah pengembangan Taman TOGA “Bagas Waras” yang sebelumnya telah dirintis oleh Bapak Sarju. Sebelum adanya program ini, taman tersebut masih terbatas dari segi jumlah dan variasi tanaman obat. Melihat potensi besar yang ada, mahasiswa berinisiatif mengembangkan taman ini, baik dari sisi koleksi tanaman, edukasi pemanfaatan herbal, maupun pelatihan pengolahan sederhana untuk pengobatan rumahan.
*Edukasi Herbal dan Pemanfaatannya*
Program ini memberikan edukasi kesehatan berbasis tanaman obat kepada masyarakat, mengenalkan berbagai jenis herbal beserta khasiat dan cara pengolahannya. Beberapa tanaman yang menjadi fokus edukasi antara lain:
Bunga Telang
Khasiat: melancarkan buang air kecil, detoks alami, melancarkan haid, mengatasi penyakit kulit, membersihkan mata, dan meredakan sakit telinga.
Cara pengolahan: Rebus 0,3 gram bunga telang kering dengan 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas, lalu minum 2 kali sehari.
Daun Bidara
Khasiat: menyembuhkan luka, anti-infeksi, mengatasi penyakit kulit, penurun demam, melancarkan pencernaan, serta memperkuat rambut.
Pemakaian luar: Tumbuk 10 lembar daun bidara segar, tempelkan pada bagian luka atau gatal.
Pemakaian dalam: Rebus 7–10 lembar daun dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas, lalu minum 1 kali sehari selama 5 hari.
Jahe Merah
Khasiat: meredakan nyeri, mengurangi peradangan, mengatasi mual, menurunkan kolesterol, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menghangatkan badan.
Cara pengolahan: Rebus 1–2 ruas jahe merah segar dalam 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas, tambahkan perasan jeruk nipis, minum 1–2 kali sehari.
*Sinergi Mahasiswa, Warga, dan Pemerintah Desa*
Dr. Arista Candra Irawati, SH., MH.Adv, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menegaskan bahwa keberadaan Taman TOGA di Dusun Setro merupakan langkah strategis untuk melestarikan pengetahuan lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengobatan alami.
“Taman TOGA bukan sekadar sarana penghijauan, tetapi juga pusat edukasi dan pelestarian pengetahuan herbal. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, sehingga sudah saatnya kita kembali ke alam untuk menjaga kesehatan dengan cara yang aman, alami, dan terjangkau,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bapak Sarju, perintis awal taman, menyampaikan rasa terima kasihnya atas bimbingan mahasiswa.
“Selama ini kami menanam TOGA hanya berdasarkan kebiasaan, tanpa tahu manfaat dan cara pengolahannya. Dengan adanya mahasiswa, pengetahuan kami bertambah, dan koleksi tanaman juga semakin lengkap,” ungkapnya.
Kepala Desa Gondoriyo, Bapak Arisno, turut memberikan dukungan penuh. Menurutnya, keberadaan mahasiswa KKN tidak hanya membantu dari sisi fisik taman, tetapi juga meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat.
“Sinergi antara mahasiswa, warga, dan pemerintah desa menghasilkan taman yang bermanfaat. Kami berharap Taman TOGA ‘Bagas Waras’ bisa menjadi contoh bagi dusun-dusun lain,” jelasnya.
*Membangun Desa Berbasis Kearifan Lokal*
Dengan adanya pengembangan Taman TOGA “Bagas Waras”, mahasiswa KKN UNW tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pembangunan desa. Program ini memadukan kearifan lokal, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat sehingga diharapkan dapat menjadi model keberlanjutan untuk desa-desa lain di wilayah Kecamatan Bergas dan sekitarnya. (Rochmad)