Jurnaljatengdiynees.com- Magelang – Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Doktor Yusron Masduki dalam acara yang digelar bersama PCM dan PCA Salam, Magelang, pada Minggu (18/8). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 40 peserta yang terdiri dari warga, perangkat desa, mahasiswa, dan akademisi.
Dalam sambutannya, Doktor Yusron yang juga inisiator gerakan Nabung Pisang bersama sahabatnya Rochmad Taufiq, menekankan pentingnya peran generasi milenial dalam mengelola sektor pertanian.
“Pertanian ke depan harus dikelola oleh generasi muda yang terdidik. Hanya dengan itu, kita bisa menjaga keberlanjutan pangan bangsa,” ungkapnya.
Program Nabung Pisang yang digagas PCM Muhammadiyah Salam kini juga mulai dikolaborasikan dengan Nabung Umbi Talas dan Ubi Cilembu. Selanjutnya, tengah dirancang pengembangan ke arah Nabung Ayam dan Nabung Domba di sekitar kebun pisang.
“Dengan adanya ayam, masyarakat bisa mendapatkan pemasukan harian dari telur, sedangkan Nabung Domba mendorong kewajiban menanam jagung setiap hari. Dari situ kita bisa memperoleh tebon sebagai pakan domba sekaligus penghasilan harian dari jual tongkol jagungnya,” jelas Doktor Yusron saat berdiskusi dengan Rochmad Taufiq.
Selain program pertanian terpadu tersebut, Yusron menekankan pentingnya pendampingan generasi milenial melalui greenhouse mini di Kadipolo Wetan, penguatan UMKM berbasis pertanian, serta dukungan teknologi pengolahan hasil panen.
“Jangan hanya menjual hasil tanam mentah. Produk pertanian harus diolah, dikemas, dan dipasarkan secara modern melalui TikTok, Instagram, WhatsApp Group, maupun Facebook,” paparnya.
Ke depan, program digital marketing akan didampingi oleh dosen dan mahasiswa UAD Yogyakarta, sehingga daya saing produk olahan pertanian masyarakat meningkat signifikan.
Dalam diskusi lebih lanjut, Prof. Dr. Anton Yudhana menekankan pentingnya pengelolaan dari sisi manajemen organisasi pengolahan hasil pertanian, sementara Dr. Novi menyoroti perlunya ketertiban dari sisi keuangan agar roda bisnis olah pertanian meningkat. Dr. Sutipyo menambahkan, pendekatan ilahitah dalam pola tanam dan pengolahan hasil harus diawali niat berkarya sesuai tuntunan Rasulullah, berdoa, dan bertawakal dalam setiap langkah kehidupan.
Dosen PAI UAD, Dr. Yusron Masduki dan Dr. Sutipyo, menekankan pentingnya kolaborasi antar-ilmu: pertanian, teknologi pangan, biologi, bisnis, dan pendidikan Islam, yang harus dilakukan secara terintegrasi. Kedepannya, Desa Salam akan menjadi proyek pemberdayaan masyarakat berkelanjutan dengan durasi 3–5 tahun, berbeda dengan program KKN yang hanya 1–2 bulan.
Gerakan ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat bergotong royong menanam, memelihara, mengolah, sekaligus memasarkan hasil pertanian dan peternakan sebagai tabungan pangan sekaligus tabungan ekonomi masa depan.
Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 13.00 WIB ini turut dihadiri oleh perangkat Desa Salam Wiyono, Kepala Dusun Kadipolo Wetan Suhardi, perwakilan RT Kadipolo Wetan, mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, mahasiswa dan dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Ketua LPPM UAD Prof. Dr. Anton Yudhana.
Pertemuan yang dipimpin Ustadz Taufiq berlangsung hidup dan interaktif. Kegiatan ditutup dengan makan siang bersama dan syukuran kemerdekaan. Dalam refleksi penutupnya, Doktor Yusron mengingatkan bahwa makna kemerdekaan sejati adalah ketika bangsa benar-benar merdeka dalam pangan, bukan sekadar merdeka secara formal. (Rochmad Taufiq)