Jurnaljatengdiynews.com- Kudus- Ahad, 01 Februari 2026. Ahad pagi itu dimulai dengan keberkahan. Usai membersamai Pengajian Ahad Pagi bersama Dr. Carto, Kang R. Taufiq tak langsung pulang. Langkahnya berlanjut menuju Kios Makmur BG Farm, lokasi sederhana yang menyimpan banyak cerita besar tentang kemandirian, pendidikan, dan ketulusan.
Sesampainya di lokasi, Kang Taufiq melakukan kontrol rutin. Domba-domba di kandang terlihat belum sarapan. Ayam-ayam konsep nabung ayam khas BG Farm PPR Kudus pun masih setia menunggu sarapan , padahal waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB.
Rupanya, Mas Yudi, petugas jaga hari itu, *lupa memberi pakan* . Bukan karena lalai, tapi karena fokus melayani kios dan mengelola aktivitas usaha.
Dengan tenang dan penuh adab, Kang Taufiq mengingatkan,
“Ke depan, begitu sampai lokasi, dahulukan kasih pakan ternak. Ayam dan domba dulu, baru kios dibuka.”
*“Siap,” jawab Mas Yudi mantap.*
Setelah dipastikan semua ternak sudah makan dengan baik, Kang Taufiq pun pamit pulang untuk melanjutkan agenda lain. Namun, belum jauh dari rumah—di wilayah Mlati Kidul—telepon berdering.
“Pak, ada tamu,” kata Mas Yudi.
“Siapa? Pak”
“Doktor Murtono.”
Tanpa banyak kata, Kang Taufiq langsung berbalik arah.
“Ok, saya meluncur balik ke kebun.”
Sesampainya di kios, tampak Dr. Murtono—guru entrepreneur sekaligus Rektor Universitas Safin—sudah duduk santai di kursi kios yang apa adanya. Tak ada ruang mewah, tak ada kursi empuk. Hanya kios sederhana, tumpukan kayu jati di samping, dan suasana kebun yang jujur.
Kopi dan pecel pun tersaji. Ngopi dimulai. Diskusi mengalir.
Tema yang dibahas bukan basa-basi, tapi inovasi wirausaha, keberlanjutan usaha, dan peluang-peluang nyata ke depan.
Di sela obrolan, Kang Taufiq sempat berseloroh karena area kios belum rapi akibat rehab kerja bakti kemarin.
Namun justru di situlah keindahan sikap seorang pemimpin terlihat.
*Dengan penuh perhatian, Pak Rektor berkata,*
“Beli saja kursi yang dibawa bapak-bapak penjual keliling itu. Nanti saya yang bayar.”
Sederhana, tapi mengena.
Demi bisa ngopi bareng di Kios Makmur, beliau tak mempersoalkan fasilitas—yang penting silaturahim dan ide tetap hidup.
Ahad itu kembali menegaskan satu hal,
Selalu ada cerita. Selalu ada pelajaran.
Edukasi entrepreneur tidak selalu di ruang kelas. Ia lahir dari tegur sapa, salam, silaturahim, kopi, dan perjumpaan dengan orang-orang yang rajin bergerak untuk hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya—di mana pun dan kapan pun.
Metodologinya sederhana, tapi dalam maknanya.
Senang menjadi petani.
Bangga menjadi petani.
Semangat dalam berkarya.
Karena dari kios kecil dan kandang sederhana, lahir gagasan-gagasan besar untuk masa depan..(Rochmad Taufiq -Untuk Indonesia )












