Jurnaljatengdiynews.com. KUDUS — Sabtu, 31/01/26. Pendidikan sejati tidak berhenti pada hafalan di ruang kelas, tetapi menyiapkan anak menghadapi kehidupan nyata sejak usia dini. Prinsip inilah yang diterapkan SDIT Al Ahyar Cendono, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, melalui konsep pendidikan kader berjiwa entrepreneur dengan sentuhan pendidikan ala Jepang.
Sekolah yang beralamat di Bonduren, Gondangmanis, Bae, Kudus (59327) ini dipimpin oleh Kepala Sekolah Abdul Aziz, dengan Operator Noor Rochmad Ali. Pada Sabtu, 31 Januari 2026, SDIT Al Ahyar menggelar Rihlah Edukasi atau studi wisata pembelajaran ke Alfa Shoofa Batik Kudus.
Kegiatan berlangsung di sentra batik yang berlokasi di Jl. Sudimoro No.178, Sukoharjo, Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus (59333). Tempat ini dikelola oleh Umi Asiyati, seorang pengusaha batik legendaris asal Grobogan sekaligus pengurus Forum Kader Bela Negara (FKBN) Kudus.
*Belajar Usaha Sejak Bangku Sekolah Dasar*
Rihlah edukasi ini dirancang agar siswa tidak hanya melihat produk jadi, tetapi memahami proses, etos kerja, ketekunan, dan nilai kemandirian dalam dunia usaha. Anak-anak dikenalkan langsung pada realitas kewirausahaan sejak usia sekolah dasar.
Pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan orientasi masa depan kepada siswa.
“Sejak SD anak-anak perlu punya gambaran tentang dunia usaha. Kelak setelah lulus sekolah atau kuliah, mereka sudah punya arah dan keberanian memilih jalan hidupnya,” ungkap perwakilan sekolah.
Fathurahman, suami dari owner Alfa Shoofa Batik, menambahkan bahwa kunjungan rutin ke dunia usaha merupakan metode efektif membentuk karakter wirausaha.
“Jika setiap bulan siswa diajak study visit ke perusahaan atau unit usaha, jiwa entrepreneur akan tumbuh secara alami,” jelasnya.
*Inspirasi Pendidikan Gaya Jepang*
Dalam sesi diskusi, muncul refleksi tentang model pendidikan Jepang yang sejak dini mengenalkan dunia kerja melalui kunjungan rutin ke berbagai sektor usaha sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal.
Rochmad Taufiq, pegiat program Nabung Pisang dan Nabung Ayam BG Kudus, menyampaikan pandangannya:
“Di Jepang, sejak SD anak-anak terbiasa mengunjungi tempat kerja. Bayangkan enam tahun sekolah mengunjungi 100 jenis usaha. Ilmu terapan itu akan melekat kuat. Ini konsep pendidikan yang visioner dan sangat relevan diterapkan di Indonesia.
Belajar dari Otodidak, Menginspirasi Banyak Orang
Keistimewaan Alfa Shoofa Batik terletak pada perjalanan usahanya. Umi Asiyati membangun eduwisata batik ini secara otodidak, tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang batik.
“Beliau belajar dari pengalaman. Namun tempat ini telah dikunjungi ratusan bahkan ribuan siswa, termasuk tamu dari berbagai daerah dan luar negeri,” tutur Fathurahman.
*Menuju Eduwisata Terintegrasi*
Ke depan, hasil diskusi antara Alfa Shoofa Batik dan BG Farm melahirkan gagasan eduwisata terintegrasi: perpaduan eduwisata batik, edu-agrowisata kebun pisang, dan program nabung ayam.
Lahan seluas sekitar 3.000–5.000 meter persegi tengah dipersiapkan untuk mewujudkan konsep tersebut.
“Masih proses. Kita ikhtiar dulu, sabar menunggu tanaman tumbuh dan hasilnya baik. Insya Allah akan berjalan dengan baik,” ujar Fathurahman dengan optimis.
*Siswa Antusias dan Terinspirasi*
Antusiasme siswa terlihat jelas sepanjang kegiatan. Ani, salah satu peserta rihlah, mengaku senang bisa belajar langsung di sentra batik.
“Aku senang bisa lihat cara membuat batik dan tahu kalau batik itu bisa jadi usaha,” ujarnya polos namun penuh semangat.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan bermakna lahir dari pertemuan ilmu, praktik, dan keteladanan. Menanam mimpi besar tidak harus menunggu dewasa—cukup dimulai dari langkah kecil di bangku sekolah dasar. (Rochmad Taufiq)












