Jurnaljatengdiynews.com- Kudus, Senin 23/02/26 Komunitas petani yang tergabung dalam Fakultas Organik Muria Raya menggelar diskusi santai namun berbobot melalui agenda “ngopi bareng” di Hotel @HOM Kudus seusai acara buka puasa bersama (bukber), Ahad (23/2). Suasana sejuk dan nyaman dimanfaatkan para pegiat pertanian untuk “ngolah pikir” secara lebih fokus dan mendalam.
Pertemuan ini membahas peluang cerdas dalam mewujudkan budidaya komoditas pertanian yang mampu menghasilkan cuan berkah dan melimpah bagi petani, sekaligus menjawab kebutuhan pasar yang daya serapnya sangat besar.
*Diskusi berlangsung hangat dan santai, menekankan pentingnya,*
✅ Pemanfaatan jejaring sosial petani
✅ Penerapan smart farming dan teknologi tepat guna
✅ Kolaborasi petani tradisional dengan pertanian modern
✅ Perawatan (treatment) terukur dan panen terukur
✅ Produksi sesuai kebutuhan pasar
Para peserta sepakat bahwa masa depan pertanian bukan lagi sekadar tanam-panen, tetapi harus berbasis data, jaringan, dan kolaborasi.
*☕ Ngopi Bukan Sekadar Minum — Tapi Mengolah Pikiran*
Komunitas ini membudayakan diskusi di berbagai tempat: di kebun, gubuk, saung, hingga ruang ber-AC seperti hotel.
“Tempat yang sejuk membantu pikiran menjadi lebih adem dan cerdas,” ungkap salah satu peserta.
Ngopi dipandang sebagai sarana silaturahim intelektual sekaligus ruang lahirnya ide-ide strategis bagi kebangkitan petani.
*🌽 Hadir Aktivis Senior & Praktisi Muda Pertanian*
Turut hadir Mbah Jo, aktivis senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) angkatan 1987 yang kini fokus di sektor pertanian dengan lahan jagung sekitar 2 hektar.
Selain itu, hadir pula Mas Unggul, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus sekaligus praktisi melon greenhouse di Karangmalang. Ia juga menjabat sebagai direktur perusahaan pertanian Agreejaya yang tengah membuka berbagai peluang kemitraan bagi petani di wilayah Muria Raya.
*🍈 Peluang Besar, Melon Ekspor & Daun Singkong Mentega*
Dalam diskusi terungkap peluang konkret yang siap digarap,
*🌏 1. Budidaya Melon untuk Ekspor Australia*
Perusahaan membutuhkan sekitar 40 ton melon, sementara produksi dari kebun sendiri belum mencukupi.
➡️ Dibuka kemitraan budidaya melon dengan pendampingan teknis.
*🌿 2. Produksi Daun Singkong Mentega Skala Besar*
Permintaan mencapai 5 ton daun singkong mentega, juga belum terpenuhi.
*Menariknya:*
Yang dipanen bukan umbi, tetapi daunnya
Panen mulai usia sekitar 2 bulan
Cocok untuk lahan kosong atau tidur
Berpotensi panen berulang
Perusahaan saat ini aktif mencari petani mitra yang bersedia menanam komoditas tersebut.
*🌽 3. Peluang Jumbo: Jagung Pipil untuk Industri Pakan*
Selain hortikultura, peluang besar juga datang dari sektor tanaman pangan. Perusahaan milik Mas Unggul telah melakukan MoU dengan perusahaan pakan ternak yang membutuhkan ratusan ton jagung pipil setiap bulan.
Menurut Mas Unggul selaku Direktur Agreejaya,
Jagung baru panen (kadar air ±35%) siap dibeli sekitar Rp3.500/kg
Jagung kering (kadar air ±15%) siap diserap di atas Rp5.000/kg
Kebutuhan bersifat rutin dan berkelanjutan
Untuk memenuhi permintaan tersebut, perusahaan membuka peluang kemitraan budidaya jagung dalam skala besar.
👉 Dibutuhkan petani mitra dengan total luasan hingga puluhan ribu hektar.
Program ini dinilai sangat potensial karena,
✅ Pasar jelas dan stabil (industri pakan)
✅ Serapan besar dan kontinu
✅ Cocok untuk petani skala kecil hingga korporasi petani
✅ Bisa menjadi komoditas penggerak ekonomi desa
*🚀 Momentum Kebangkitan Petani Berbasis Kolaborasi*
Diskusi menyimpulkan bahwa peluang pasar pertanian sangat besar, namun membutuhkan pendekatan baru:
👉 Produksi terukur
👉 Manajemen modern
👉 Kemitraan kuat
👉 Inovasi berkelanjutan
“Petani tidak boleh berjalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar bisa naik kelas,” ujar salah satu peserta.
*🌟 Pertanian Masa Depan: Cerdas, Terhubung, dan Menguntungkan*
Agenda ngopi bareng ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya gerakan pertanian Muria Raya yang:
🌱 Produktif
🌱 Berorientasi pasar
🌱 Berbasis teknologi
🌱 Menghasilkan cuan sekaligus keberkahan
Komunitas Fakultas Organik Muria Raya berkomitmen menjadikan forum diskusi santai semacam ini sebagai agenda rutin untuk memperkuat jaringan, wawasan, dan strategi petani.
Diskusi pun menegaskan satu hal penting: peluang besar sudah ada, tinggal kesiapan petani untuk bergerak bersama. ,(Rochmad Taufiq -untuk Indonesia)












