Jurnaljatengdiynews.com- Kudus, 30 Agustus 2025 — Suasana sejuk dan asri Resto Bonjati, Desa Singocandi, Kabupaten Kudus, menjadi saksi terselenggaranya Diklat dan Ngopi Bareng yang digagas oleh Pengurus Koperasi Karya Kita Jaya bersama para pegiat Social Enterprise (SE) Pati Raya.
Acara ini mempertemukan para petani, penggiat sosial, dan praktisi pertanian organik dari berbagai daerah, termasuk Blora, Rembang, Pati, Kudus, dan Jepara, yang tergabung dalam Paguyuban Kelompok Tani Persaudaraan Pati Raya.
*Resto Bonjati, Harmoni Alam dan Semangat Belajar*
Lokasi kegiatan yang dipilih, Resto Bonjati, milik profesor Ihsan seorang guru besar di UIN Kudus dan pemilik ponpes qudsiyah dengan 5000 santri. menghadirkan kesan tersendiri bagi peserta. Restoran bernuansa antik dengan hamparan kebun jati yang asri dan udara yang sejuk membuat semua lelah perjalanan seketika terbayar lunas.
“Perjalanan dari Blora ke Kudus lumayan jauh, tapi suasana kebun jati ini membuat semua penat langsung hilang. Tempatnya adem, tenang, dan penuh inspirasi,” ujar salah satu peserta dengan senyum sumringah.
Keindahan alam dan kenyamanan lokasi membuat suasana diklat lebih hidup. Para peserta terlihat bersemangat mengikuti materi sejak awal hingga akhir.
*Materi Diklat, Integrated Farming & Key Hole Garden*
Hadir sebagai narasumber, Rochmad Taufiq, alumnus BSM dari Kampus lembah Kamulyan ngablak Magelang yang konsen pada Pertanian Organik sekaligus founder Banana Garden Farm, bersama Mr. Shireng, membawakan materi tentang gerakan pertanian organik dengan konsep Integrated Farming.
Dalam pemaparannya, Taufiq menekankan pentingnya kemandirian pangan melalui pemanfaatan lahan secara maksimal dan berkelanjutan, baik di tingkat keluarga, yayasan, pondok pesantren, maupun komunitas desa.
Salah satu konsep utama yang disorot adalah Key Hole Garden, teknik pertanian sederhana dan efektif untuk lahan sempit.
“Setiap keluarga, yayasan, dan desa sebaiknya memiliki Key Hole Garden. Metode ini bukan hanya menghasilkan pangan sehat tanpa bahan kimia, tapi juga memanfaatkan limbah organik agar kembali bermanfaat,” jelas Taufiq penuh semangat.
*Kolaborasi Paguyuban dan Gerakan Sosial*
Kegiatan ini bukan sekadar diklat, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi, sinergi, dan kolaborasi antarpegiat pertanian organik di wilayah Pati Raya. Melalui paguyuban, peserta sepakat untuk memperkuat jejaring dan mendukung program ketahanan pangan berbasis komunitas.
Semangat gotong royong dan berbagi ilmu menjadi nilai utama dalam kegiatan ini. Para petani, yayasan, dan pegiat sosial sepakat untuk bergerak bersama membangun model pertanian organik terpadu demi kesejahteraan bersama dan keberlanjutan lingkungan.
*Harapan dan Langkah ke Depan*
Diklat ini diharapkan menjadi pemantik gerakan pertanian sehat yang dapat diterapkan lebih luas, mulai dari tingkat keluarga hingga skala komunitas. Para peserta optimis bahwa key hole garden dan konsep integrated farming akan membantu mewujudkan kemandirian pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan limbah organik yang lebih bijak.
Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengadakan kegiatan edukasi serupa dan memperluas gerakan pertanian organik ke berbagai daerah di Pati Raya. Usai acara Diklat profesor Ihsan owner Resto bonjati dan juga pengasuh ponpes qudsiyah Kudus mengajak diskusi sejenak agar tim BSM paguyuban petani Pati raya bisa berkolaborasi dengan pondok terutama mngatasi bagaimna liruta pondok yang jumlahnya puluhan ton setiap bulan bisa diatasi, selain itu di kampusnya beliau mnyampaikan UIN memiliki 10 hektar tanah yang 5 hektar sudah ada bangunanabya sementara 5 hektar lainya belum termanfaatkan, terangnya , apakah tim BSM ppr sanggup mengelola , tambah prof Ihsan.