Jurnaljatengdiynews.com- Kebumen, Suasana Aula Gedung PLUT Kebumen pada Senin, 29 Desember 2025 H, terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar tempat berlangsungnya akad nikah, namun menjadi saksi lahirnya sebuah ikatan suci antara Jundi, putra dari Mas Taufiq asal Kudus, dengan Farida, putri dari Ustadz Sya’roni asal Kebumen.
Kedua sejoli ini dikenal sebagai pribadi yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih, adab, dan nilai-nilai keislaman. Proses akad nikah yang dilangsungkan di hadapan penghulu KUA Kebumen berjalan dengan khidmat dan sederhana, namun sarat makna. Sejak ijab kabul terucap, resmi sudah Jundi dan Farida menjadi suami istri, mengawali bahtera rumah tangga dengan niat ibadah.
Keistimewaan acara ini terasa semakin kuat karena dihadiri dan disaksikan oleh para senior pembina, akademisi, dan dosen, termasuk Profesor Tri, guru besar bidang perikanan dari UGM, serta Dr. Drs. Carto Nuryanto, MM, MHdosen UIN Kudus yang juga sahabat dekat wali pengantin.
Momen yang paling membekas terjadi ketika Dr. Carto Nuryanto memberikan dukungan dan nasihat bukan hanya melalui kata-kata, tetapi lewat lantunan lagu legendaris penuh makna. Dengan suara yang merdu dan pemilihan lagu yang tepat, pesan-pesan tentang cinta, kesetiaan, dan keikhlasan dalam rumah tangga tersampaikan dengan cara yang menyentuh.
Banyak tamu tampak tertegun, larut dalam suasana. Aula mendadak hening, semua serius mendengarkan. Terdengar bisik-bisik kagum di antara para undangan. “Itu siapa ya, pinter nyanyi…” ujar salah satu tamu. Seorang petani yang hadir menjawab dengan bangga,
“Itu dosen UIN, Doktor Carto, sahabat dekat wali penganten.” “Wah lagunya enak dan bagus,” timpal Yono, salah satu tamu lainnya.
Lagu tersebut seakan menjadi nasihat hidup bagi pasangan pengantin baru—bahwa cinta sejati tidak selalu tentang kemewahan, melainkan tentang kebersamaan, ketulusan, dan kesiapan menerima takdir Allah dengan lapang dada.
Sebagaimana falsafah rasa cinta karangan Rinto Harahap.
cinta datang tanpa janji dan rencana,
tidak meminta istana atau permata,
cukup hati yang setia dan jiwa yang saling menguatkan.
Dan dalam rumah tangga, mencintai bukan hanya tentang memiliki,
tetapi juga tentang ikhlas berjalan bersama,
dalam suka dan duka, hingga akhir usia.
Hajat nikah Jundi dan Farida bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menghadirkan pelajaran hidup bagi siapa saja yang menyaksikan:
bahwa pernikahan adalah perjumpaan takdir, doa orang tua, dan kesungguhan untuk saling menjaga dalam ridha-Nya. (Rochmad Taufiq- untuk Indonesia).













