Kudus, Jumat 22 Agustus 2025 – Silaturahim Gong Jinagong digelar penuh kehangatan di Resto Cangkrukan Bonjati milik Prof. Dr. H. Ikhsan, Pembantu Rektor I UIN Sunan Muria Kudus.
Pertemuan ini menghadirkan Prof. Ikhsan, Dr. Carto Nuryanto (dosen Hukum UIN Sunan Muria, juga penasehat FKBN Kudus ), dan Rochmad Taufiq (alumnus BSM, pegiat nabung pisang, serta pengelolaan limbah rumah tangga). Suasana asri dan sejuk resto membuat diskusi berjalan penuh keakraban namun tetap produktif.
*Fokus Utama, Solusi Pengelolaan Limbah Rumah Tangga (LRT)*
Diskusi menyoroti tantangan pengelolaan Limbah Rumah Tangga (LRT) di lingkungan Pondok Qudsiyah, yang saat ini menaungi 5.000 siswa dengan 1.500 santri mukim. Selama ini, sebagian besar limbah organik pondok masih langsung dibuang ke TPA tanpa pengolahan, sehingga memunculkan permasalahan lingkungan yang mendesak.
Dalam pemaparannya, Rochmad Taufiq menekankan pentingnya mengubah paradigma tentang sampah:
“Jika dikelola dengan baik, limbah organik bisa diolah menjadi pupuk cair dan pupuk padat yang bermanfaat untuk pertanian. Dengan sistem integrasi yang tepat, pondok bisa mandiri pupuk, mengurangi ketergantungan eksternal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Ikhsan menyampaikan dukungannya. Ia menegaskan bahwa UIN Sunan Muria Kudus memiliki lahan cukup luas yang bisa dimanfaatkan untuk pilot project pengolahan limbah organik sebelum nantinya digunakan untuk pembangunan gedung baru kampus.
*“Saya akan segera koordinasi dengan pihak kampus terkait pemanfaatan lahan UIN. Untuk pengolahan limbah Pondok Qudsiyah, prosesnya bisa langsung kita mulai,” terang Prof. Ikhsan.
*Konsep Integrated Farming: Domba, Jagung, dan Pupuk*
Selain membahas limbah, pertemuan ini juga melahirkan gagasan integrated farming sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren. Rochmad Taufiq memaparkan konsep sederhana namun strategis:
1. Budidaya Domba Berbasis Perkembangbiakan Eksponensial
Mulai dengan 1 ekor domba → 6 bulan kemudian dijual, hasilnya dibelikan 2 ekor.
Siklus berlanjut: 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, dan seterusnya.
Dalam waktu 3–6 tahun, populasi domba dapat berkembang eksponensial jika manajemen berjalan baik.
2. Ketersediaan Pakan dari Budidaya Jagung
1 ekor domba memerlukan ± 4 kg pakan per hari, setara 16 batang jagung.
Maka, untuk keberlanjutan, dibutuhkan penanaman 20 batang jagung per hari.
Sistemnya menggunakan bedeng: setiap bedeng berisi 20 batang, dan dibuat 30 bedeng untuk rotasi panen.
Dengan pola ini, setiap hari bisa panen 20 batang jagung mulai hari ke-80.
*3. Manfaat Terintegrasi*
Jagung dijual dengan harga ± Rp1.000/batang → potensi Rp20.000/hari.
Tebon jagung (batang dan daun) digunakan sebagai pakan domba.
Kotoran domba (kohe) diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung keberlanjutan tanaman jagung.
Model ini memungkinkan terjadinya siklus ekonomi mandiri:
limbah organik → pupuk → jagung → pakan domba → kohe → pupuk jagung.
*Kolaborasi Lintas Sektor untuk Keberlanjutan*
Menutup diskusi, Dr. Carto Nuryanto menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga:
“Ini bukan hanya tentang kebersihan pondok, tapi juga tentang pendidikan santri, ekonomi pesantren, dan kelestarian lingkungan. Jika santri belajar sejak dini untuk mengelola sampah dan bertani terintegrasi, maka mereka membawa ilmu bermanfaat sepanjang hayat.”
Pertemuan ini menjadi langkah awal menuju pondok pesantren mandiri lingkungan dan pangan di Kudus. Harapannya, program ini dapat menjadi percontohan bagi pondok-pondok lain di Jawa Tengah dan sekitarnya.
Suasana santai di Resto Bonjati, dengan filosofi “Serasa Rumah Sendiri”, membuat pertemuan berlangsung hangat, penuh ide segar, dan memunculkan semangat kolaborasi jangka panjang. (Rochmad Taufiq)