Jurnaljatengdiynews.com. Kudus — Jumat. 03/04/26. Sore menjelang magrib di bulan Syawal terasa begitu teduh dan penuh berkah. Momen yang sering terlewatkan oleh kesibukan, justru dimanfaatkan oleh Rochmad Taufiq, penggerak BG Farm, untuk merajut kembali tali silaturahim dalam suasana hangat dan penuh makna.
Dengan membawa buah tangan sederhana berupa pisang kepok hasil panen kebun sendiri, Taufiq melangkah menuju kediaman Hj. Maryuni Fakih—sebuah rumah yang memiliki jejak sejarah sebagai tempat tumbuhnya kajian Al-Qur’an dan aktivitas para pegiat dakwah di Kabupaten Kudus.
Di tempat itulah, sebuah pertemuan penuh kehangatan terjadi. Hadir pula Dr. Carto, seorang akademisi yang dikenal aktif dalam diskusi keilmuan dan sosial. Pertemuan ini bukan sekadar temu biasa, melainkan silaturahim “middle up” yang dibangun secara personal—menghubungkan pelaku lapangan dengan kalangan akademisi dan tokoh masyarakat.
*☕ Ngopi, Ngeteh, dan Menyulam Makna Kehidupan*
“Bahagia itu sederhana,” ungkap Taufiq.
Cukup dengan duduk bersama, menikmati teh hangat, dan berbagi cerita tentang masa lalu, masa kini, hingga harapan masa depan.
Suasana semakin hidup ketika diskusi mengalir tanpa sekat. Dari obrolan ringan hingga isu-isu besar bangsa—mulai dari menurunnya akhlak, fenomena korupsi, praktik mark-up anggaran, hingga budaya KKN yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Tak hanya itu, diskusi juga menyentuh aspek penting lainnya: pendidikan keluarga, masa depan anak cucu, serta tantangan membangun generasi yang kuat secara moral dan spiritual.
*🌱 Dari Kebun ke Ruang Diskusi*
Menariknya, silaturahim ini juga menjadi ruang berbagi gagasan tentang program sosial yang digagas BG Farm. Program pertanian terintegrasi—mulai dari kebun pisang hingga konsep “nabung ayam” bagi santri binaan—menjadi topik hangat yang menarik perhatian kalangan akademisi.
Diskusi tentang wakaf produktif pun mengemuka, membuka peluang kolaborasi antara praktik di lapangan dengan kajian ilmiah. Tak jarang, kegiatan ini juga menjadi bahan observasi mahasiswa yang tertarik mempelajari model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren.
*🤝 Kehangatan yang Menguatkan Ukhuwah*
Pertemuan semakin akrab dengan kehadiran Bunda Endah, yang ternyata memiliki kedekatan personal dengan keluarga Dr. Carto. Suasana pun berubah menjadi penuh canda, tawa, dan kehangatan kekeluargaan.
Momentum Syawal dimanfaatkan sepenuhnya untuk saling memaafkan. Ucapan minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin mengalir tulus, memperkuat ikatan hati yang mungkin lama tak terjalin.
Hingga waktu menunjukkan pukul 21.59 WIB, obrolan tak terasa telah berjalan berjam-jam. Teh hangat dan camilan lebaran yang tersaji menjadi saksi bisu betapa indahnya kebersamaan yang sederhana.
*✨ Pesan dari Sebuah Pertemuan*
Dari pertemuan ini, tersirat satu pesan kuat:
bahwa perubahan besar seringkali berawal dari hal-hal kecil—dari silaturahim, dari obrolan ringan, dari ketulusan untuk saling mendengar dan memahami.Karena sejatinya,
bahagia itu bukan tentang seberapa besar yang dimiliki, tetapi seberapa hangat kebersamaan yang dirasakan. (Rochmad Taufiq untuk Indonesia)












