Jurnaljatengdiynews.com. Kudus –Jumat.1302/26. DPC P2RPTI Wonogiri dan Boyolali melakukan kunjungan silaturahim dan diskusi ke Kudus, kota yang dikenal luas sebagai sentra industri rokok nasional. Dalam agenda tersebut, rombongan berdialog dengan para sesepuh, pelaku usaha, serta perwakilan pabrik rokok untuk menyerap aspirasi, memetakan persoalan, dan merumuskan solusi strategis ke depan.
Kudus selama puluhan tahun identik dengan industri rokok kretek, yang tumbuh sejak era Nitisemito dan kemudian berkembang melalui perusahaan-perusahaan besar seperti PT Djarum dan PT Nojorono Tobacco International. Industri ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah—menyerap tenaga kerja, menggerakkan UMKM, serta menopang sektor pertanian tembakau dan cengkeh.
Beragam Persoalan yang Dihadapi
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan terbuka, sejumlah persoalan strategis mengemuka:
1️⃣ Tekanan Regulasi dan Cukai
Kenaikan cukai rokok yang konsisten dari tahun ke tahun berdampak pada daya saing industri, khususnya pabrik skala kecil dan menengah. Beban produksi meningkat, sementara ruang ekspansi makin terbatas. Banyak pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang lebih berimbang antara aspek kesehatan publik dan keberlangsungan ekonomi rakyat.
2️⃣ Isu Kesehatan dan Stigma Sosial
Industri rokok menghadapi tantangan citra di tengah kampanye kesehatan global. Di satu sisi, rokok dipandang sebagai komoditas legal dan penyumbang signifikan penerimaan negara. Di sisi lain, isu kesehatan mendorong pembatasan yang semakin ketat. Diperlukan pendekatan dialogis agar tidak terjadi polarisasi yang merugikan banyak pihak.
3️⃣ Dampak terhadap Petani Tembakau dan Cengkeh
Fluktuasi kebijakan dan pasar berdampak langsung pada petani. Ketika produksi pabrik menurun atau dibatasi, serapan hasil tani ikut terdampak. Padahal ribuan keluarga di hulu industri menggantungkan hidup pada sektor ini.
4️⃣ Persaingan Produk Ilegal
Peredaran rokok ilegal menjadi masalah serius. Selain merugikan negara dari sisi pajak, juga menekan pabrik resmi yang patuh aturan. Penegakan hukum yang adil dan konsisten menjadi kebutuhan mendesak.
Prospek dan Harapan ke Depan
Meski menghadapi tantangan, industri rokok di Kudus masih memiliki prospek:
- Pasar domestik yang besar.
- Keterampilan tenaga kerja linting kretek yang khas dan sulit tergantikan.
- Rantai ekonomi yang luas dari hulu hingga hilir.
Namun, prospek tersebut hanya dapat terjaga jika ada kebijakan afirmatif yang melindungi industri padat karya serta menjaga keseimbangan antara kepentingan kesehatan, ekonomi, dan sosial
Rekomendasi dan Solusi Strategis
Hasil kunjungan ini merumuskan beberapa poin penting untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan, termasuk melalui komunikasi dengan DPR RI dan kementerian terkait:
- Kebijakan cukai yang lebih adaptif dan bertahap, mempertimbangkan keberlangsungan pabrik kecil dan tenaga kerja.
- Perlindungan terhadap industri padat karya, khususnya sektor linting manual yang menyerap banyak tenaga kerja perempuan.
- Penguatan pengawasan rokok ilegal secara tegas dan merata.
- Pendampingan diversifikasi usaha bagi petani tembakau agar memiliki alternatif ekonomi jangka panjang.
- Forum dialog rutin antara pemerintah, pelaku industri, petani, dan tokoh masyarakat untuk mencari titik temu kebijakan.
Kunjungan DPC P2RPTI Wonogiri dan Boyolali ini diharapkan menjadi langkah awal membangun komunikasi yang konstruktif dan berkeadilan. Industri rokok bukan semata persoalan produk, tetapi menyangkut nasib jutaan pekerja, petani, dan keluarga yang bergantung pada sektor ini.
Semoga hasil silaturahim ini membawa kebermanfaatan, membuka ruang solusi, dan menghadirkan kebijakan yang bijak—demi keberlanjutan ekonomi rakyat sekaligus tanggung jawab sosial bangsa. (Rochmad Taufiq untuk Indonesia)












