.
Jurnaljatengdiynews.com- Rembang, Selasa, 10 Februari 2026 menjadi hari yang sederhana namun sarat makna di ruang tengah Kantor Pondok Rumah Yatim An Naba. Bukan acara seremonial besar, bukan pula pelatihan formal berbiaya mahal. Hanya sebuah forum dialog sederhana—ditemani secangkir kopi—namun di sanalah benih kekuatan besar mulai ditanam.
Pengurus An Naba menyadari satu hal penting,
bahwa membangun lembaga pendidikan yatim tidak cukup hanya dengan fasilitas fisik dan kurikulum sekolah formal. Yang lebih menentukan adalah kualitas “leher ke atas” para duta dan ustadzah—cara berpikir, cara memaknai amanah, serta pengalaman lapangan yang hidup dan membumi.
Walaupun para ustadzah dan duta An Naba sebagian besar merupakan lulusan sarjana, bahkan ada yang sedang atau telah menempuh strata satu, namun pengalaman nyata di lapangan dinilai jauh lebih bermakna dibanding sekadar teori akademik di bangku kuliah. Dari sinilah lahir gagasan untuk menghadirkan forum dialog rutin, minimal satu hingga dua kali dalam sepekan, sebagai sarana menyibghoh (mewarnai) ruh perjuangan mereka.
Dalam diskusi hangat tersebut, para pengurus menekankan bahwa mengelola pondok rumah yatim harus memiliki ruh, tidak boleh garing dan administratif semata. Pondok bukan sekadar tempat tidur, makan, dan memberi uang saku. Lebih dari itu, asrama adalah ruang pendidikan karakter yang justru porsinya jauh lebih besar dibanding waktu anak-anak berada di sekolah.
“Di sekolah anak-anak hanya dididik sekitar 7–8 jam. Sementara di asrama, mereka hidup lebih lama bersama kita. Maka di situlah tanggung jawab terbesar pendidikan akhlak dan karakter,” tegas Taufiq, pembina lembaga.
Beberapa poin penting yang ditekankan dalam pembinaan antara lain:
Pembinaan akhlak melalui praktik langsung, seperti sholat berjamaah tepat waktu, khususnya Subuh, Magrib, dan Isya.
Pentingnya life skill bagi para santri agar mereka memiliki bekal hidup yang nyata.
Penanaman mindset bahwa keberadaan rumah yatim adalah sarana pendidikan di luar sekolah, bukan sekadar pelengkap.
Kewajiban pondok memiliki kurikulum internal yang terukur, seperti ngaji sore, belajar bersama, serta pembiasaan adab dan akhlak sehari-hari.
Diskusi berlangsung dinamis—“gong jinagong”—antara pengurus, duta, dan para ustadzah. Forum ini bukan untuk menggurui, melainkan mengasah ide, menggali kreativitas, dan membuka ruang dialog bagi generasi milenial yang sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa.
Dari hasil diskusi dan wawancara, pengurus melihat “kekuatan raksasa” dalam diri para duta dan ustadzah An Naba: ide-ide cemerlang, semangat sosial tinggi, dan energi muda yang jika diarahkan dengan tepat akan menjadi motor penggerak peradaban.
Namun potensi besar itu, sebagaimana diakui bersama, butuh sentuhan kasih, binaan lembut, dialog interaktif, serta dukungan penuh dari pengurus. Bukan tekanan, melainkan pancingan ide dan support yang konsisten agar mereka mampu selaras dengan misi besar: membangun peradaban melalui pendidikan yang relevan dengan zaman.
Dari ruang tengah sederhana, dari secangkir kopi dan obrolan jujur, An Naba menegaskan satu pesan:
bahwa perubahan besar selalu bermula dari ruang dialog yang hangat dan niat yang lurus. (R Taufiq)











