Jurnaljatengdiynews.com- Kudus-Jumat, 30 Januari 2026- Menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan.”
Ungkapan ini kerap terdengar sebagai slogan. Namun bagi Dr. Carto, nilai tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan laku hidup yang nyata dan konsisten dijalani.
Sebagai seorang ayah dan perwira, Dr. Carto menanamkan keteladanan sejak dini di dalam keluarga. Buahnya nyata: ketiga putra beliau tumbuh menjadi perwira, mencerminkan nilai kejujuran, empati, dan kedermawanan yang mereka lihat langsung dari teladan sang ayah. Sebab sejatinya, keteladanan adalah pendidikan paling efektif.
Setiap pagi sekitar pukul tujuh, Dr. Carto kerap melihat seorang ibu penjual jamu gendong melintas di depan rumahnya. Tubuh renta itu memanggul beban berat, melangkah pelan, namun tetap teguh mencari nafkah. Pemandangan itu membuat hatinya terenyuh. Dalam benaknya terlintas bayangan almarhumah ibunya sendiri—betapa berat perjuangan seorang ibu.
Dari rasa empati itulah, hatinya terketuk untuk memberi hadiah berupa sebuah sepeda ontel agar sang ibu lebih ringan berjualan. Dengan niat tulus, beliau memanggil ibu tersebut dan menyampaikan maksud baiknya.
Namun jawaban sang ibu justru menggetarkan hati,
“Nyuwun sewu, Pak. Kulo ajrih menawi nitih sepeda.”
(Mohon maaf, Pak. Saya takut kalau naik sepeda).
Penolakan itu bukan penolakan biasa. Ia lahir dari kejujuran yang bersih, tanpa rekayasa, tanpa pamrih. Banyak orang mungkin akan menerima lalu menjual atau memanfaatkannya untuk hal lain. Namun ibu penjual jamu itu memilih jujur apa adanya. Dr. Carto justru semakin kagum—karena kejujuran membuat hidup terasa nikmat, dan dari situlah beliau belajar dan mencontoh.
Akhirnya, sepeda tersebut dialihkan kepada penjaga Gedung Juang kantor PP Polri, yang memang membutuhkan. Kebaikan pun menemukan jalannya sendiri—tepat sasaran, tepat guna.
Kisah ini kembali teringat saat diceritakan tentang Suwarno, penjaga Kios Makmur dan kebun Banana Garden, yang sehari-hari hanya beraktivitas menggunakan sepeda karena tidak bisa mengendarai motor. Sepeda yang ia gunakan pun sudah kurang layak, bahkan remnya tidak berfungsi dengan baik.
Mendengar hal itu, empati kembali mengetuk hati sang dermawan. Dengan niat ikhlas, beliau berencana menghibahkan salah satu sepeda miliknya yang masih tersedia di rumah. Sebuah kebaikan sederhana, lahir dari kepedulian, berbuah manfaat nyata.
Kebetulan niat baik itu hadir di Jumat sore, waktu yang dikenal penuh keberkahan. Semoga Allah SWT mengijabah doa-doa para dermawan, melipatgandakan pahala kebaikan mereka, dan semoga kisah ini menumbuhkan kesadaran bahwa kemanusiaan hidup dari ketulusan, kejujuran, dan keberanian berbagi—sekecil apa pun bentuknya. (Rochmad Taufiq)











